Biografi Hidayat Nur Wahid
Hidayat Nur Wahid semasa kecil bercita-cita menjadi dokter. Alasannya sederhana. Karena ingin dirinya dapat membantu sesama. Namun, keikhlasannya menjalani skenario hidup dari Allah membawanya ke dunia yang tak pernah dicita-citakannya: dunia politik. Kendati demikian, tekadnya tak berubah. Di manapun beraktivitas, dia selalu berupaya menjadi bagian dari solusi. Bukan justru bagian dari masalah. Hidayat kecil hidup seperti anak-anak desa lainnya. Bermain di sawah, mencari ikan di sungai dan menggembala ternak. Ayah beliau yang seorang guru berpikir jauh ke depan. Hidayat dikirimnya ke pondok pesantren modern Gontor. Rupanya, inilah yang menjadi dasar bagi langkah besar Hidayat ke masa depan.
Sepulang dari Madinah, sebetulnya Hidayat ingin pulang dan mengamalkan ilmunya di Yogyakarta. Dekat dengan kampung kelahiran di Prambanan. Namun, teman-temannya di Jakarta mencegatnya. Mereka membutuhkan peran Hidayat.
Di Jakarta, Hidayat pun serius beraktivitas sebagai tenaga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Islam Asy Syafiiyah. Tampaknya Allah punya skenario lain. Rekan-rekan Hidayat yang semula membuat LSM, kemudian mendirikan partai. Tunduk pada keputusan musyawarah, Hidayat pun didaulat menjadi deklarator Partai Keadilan (PK).

Kiprah Hidayat di PK dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus menanjak. Bahkan, Hidayat pernah dua kali menjadi “Presiden”. Yakni, Presiden PK dan PKS. Hidayat juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, PKS berhasil meraih suara 7,3 persen pada Pemilu 2004. Padahal, dalam Pemilu 1999, PK baru mendapat 1,53 persen suara. Hidayat juga menjadi salah satu anggota DPR periode 2004-2009 yang terpilih dengan suara melebihi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Hal ini menunjukkan bahwa Hidayat adalah figur yang siap mengemban amanah apapun dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi.

Hidayat juga pembelajar yang cepat. Dia belajar dengan maksimal di mana saja dia mendapat amanah tugas. Termasuk ketika terpilih sebagai Ketua MPR periode 2004-2009. Hidayat mengaku, dulu dia tak akrab dengan Undang-Undang Dasar. Tetapi kini UUD 1945 dihafalnya luar kepala. Ini karena Hidayat selalu berprinsip, apapun amanah yang didapat, dia akan mengerjakannya dengan maksimal.

Sebagai dai, saat ini Hidayat berperan sentral dalam pembangunan Masjid Raya Al Muttaqun, Prambanan, Klaten. Idul Adha 1429 H lalu, dia menjadi imam sekaligus khatib di Alun-alun Klaten. Tanpa canggung, dia pun menyembelih sendiri dua ekor sapi kurban. Sebelumnya, ketika Idul Fitri 1429 H di Boyolali, dia menyampaikan khutbah di hadapan ribuan jamaah. Sampai saat ini, Hidayat juga masih aktif mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid serta mengisi acara-acara kajian Islam di stasiun-stasiun televisi.

Hidayat juga diterima tokoh-tokoh internasional. Sejumlah seminar, dialog dan forum-forum diskusi tingkat internasional dihadirinya. Mulai dari dialog agama di Makkah, dialog antaragama di Madrid, Spanyol, seminar isu-isu kontemporer dengan Lee Kuan Yew di Singapura hingga konferenesi internasional Amerika dan Islam di Doha, Qatar.

Di rumah orangtuanya di Kadipaten, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, Hidayat menyimpan hingga tiga buah wayang Kresna bersama kitab-kitab kuning. Kecintaan pada wayang ditunjukkan dengan kesediaannya menjadi Anggota Dewan Pembina Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) dan hadir membuka festival wayang internasional pertama di Surabaya.

Sebagai wujud cinta tanah kelahiran, kini Hidayat siap menjalankan tugas dari partai untuk dicalegkan di Dapil V Jateng (Klaten, Solo, Boyolali, Sukoharjo). Tekadnya tetap sama. Yakni berusaha memaksimalkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat melalui kewenangan sebagai anggota dewan untuk menyusun anggaran, mengontrol eksekutif dan membuat UU yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Video Hidayat Nur Wahid di Youtube
Profil
Nama: Dr. HM. Hidayat Nur Wahid, MA
Tempat/Tanggal Lahir: Klaten, 8 April 1960
Alamat:
- Jl. Widya Chandra IV/16, Jakarta (Rumah Dinas Ketua MPR)
- Jl. H. Rijin RT 01/09 No. 196, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi
- Kadipaten, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten (Rumah Orangtua)
Nama Istri:
- (Almarhumah) Hj. Kastian Indriawati
- dr. Diana Abbas Thalib, MARS.
Nama Anak:
* dari istri pertama:
1. Inayatu Dzil Izzati
2. Ruzaina
3. Alla Khairi
4. Hubaib Shidiqi
* dari istri kedua:
1. Nizar Muhammad
Pendidikan:
- SDN Kebondalem Kidul I, Prambanan, Klaten (1972)
- Pondok Pesantren Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur (1973)
- Pondok Modern Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1978)
- IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Syariah, Yogyakarta (1979)
- Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Saudi Arabia; (1983)
- Program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah Arab Saudi, jurusan Aqidah (1987)
- Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Fakultas Dakwah dan Ushuludiin, Jurusan Aqidah (1992)
- Anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) (1973)
- Andalan Koordinator Pramuka Gontor bidang kesekretariatan (1977-1978)
- Training HMI IAIN Yogyakarta (1979)
- Sekretaris MIP PPI Madinah Arab Saudi (1981-1983)
- Ketua I Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Saudi Arabia (1983-1985)
- Peneliti LKFKH (Lembaga Kajian Fiqh dan Hukum) Al Khairot
- Ketua Umum LP2SI (Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam) Al-Haramain Jakarta (sejak 1993)
- Anggota Pengurus badan Wakaf Pondok Modern Gontor (1999)
- Pengurus Islamic Center IQRO Bekasi
- Ketua Dewan Pendiri Partai Keadilan (PK)
- Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan (1998-1999)
- Anggota Steering Commitee IIFTIHAR untuk International Seminar and Workshop on Islamic Economics (1999)
- Presiden Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) (2000-2004)
- Ketua Majelis Syuro Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)
- Ketua Forum Dakwah Indonesia
- Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI (2005-2010)
- Anggota Dewan Pembina Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI)
- Wakil Ketua Wali Amanat Al Quds Foundation yang diketuai Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawy
- Anggota Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
- Ketua Dewan Pembina Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)
- Dosen Pasca Sarjana Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
- Dosen Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
- Dosen Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah JakartaDosen Fakultas Ushuluddin (Program Khusus) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Dosen Pasca Sarjana Universitas Asy-Syafi’iyah, Jakarta
- Ketua LP2SI (Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam) Yayasan Al-Haramain, Jakarta
- Dewan Redaksi Jurnal Kajian Islam Ma’rifah Jakarta
- Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia (MPR RI) (2004-2009)

Referensi:
http://hidayatnurwahid.myblogrepublika.com/biografi/
Hidayat Nur Wahid bersama Didik J Rachbini adalah calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Pasangan Hidayat-Didik ini adalah salah satu calon kuat untuk menang bersama dengan Jokowi-Ahok. Apabila Hidayat jadi Gubernur DKI, mari kita doakan semoga beliau amanah dalam tugasnya memimpin Jakarta.


